ANALISIS

Minyak Dunia Balik Normal, Bisakah Harga Pertamax Cs Turun Juli Ini?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | VoxPop
Jumat, 26 Jun 2026 08:05 WIB
Warga mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU kawasan MT Haryono, Jakarta, Selasa, 3 Januari 2023. PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM jenis Pertamax dari Rp13.900 per liter menjadi Rp12.800. Penurunan harga berlaku mulai Selasa (3/1) pukul 14.00
Fokus pemerintah tidak berhenti pada penyesuaian harga BBM semata. Gejolak harga minyak dunia harus jadi pengingat pentingnya percepatan transisi energi RI. (Foto: VoxPop/Safir Makki)
Jakarta, VoxPop --

Harga minyak dunia terus bergerak turun seiring dibukanya kembali Selat Hormuz usai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada perdagangan Kamis (25/6), harga minyak Brent turun 40 sen atau 0,54 persen menjadi US$73,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 27 sen atau 0,38 persen ke level US$70,07 per barel.

Penurunan harga minyak tersebut memunculkan pertanyaan apakah harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax berpeluang turun pada Juli mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai penurunan harga BBM nonsubsidi sangat memungkinkan apabila tren harga minyak dunia bertahan di level saat ini. Harga BBM nonsubsidi di Tanah Air pada dasarnya mengikuti perkembangan harga minyak mentah internasional.

"Sangat bisa kalau harga minyak (dunia) kembali ke angka normal. Harga BBM nonsubsidi berbanding lurus dengan harga crude internasional. Jika crude internasional naik, BBM seharusnya bisa naik, demikian sebaliknya," ujar Hadi kepada VoxPop.com, Kamis (25/6).

Ia menjelaskan rata-rata harga Brent sepanjang Juni masih relatif tinggi, yakni sekitar US$95 per barel. Oleh karena itu, harga keekonomian BBM masih berada di kisaran Rp17.400 per liter.

Namun, jika rata-rata harga minyak mentah turun ke kisaran US$70 per barel, harga Pertamax berpotensi berada di sekitar Rp12.800 per liter.

Hadi pun mengingatkan perubahan harga BBM nonsubsidi tidak ditentukan berdasarkan pergerakan harga harian atau mingguan. Sebab, pemerintah menggunakan acuan Indonesian Crude Price (ICP) yang dihitung berdasarkan rata-rata harga minyak mentah selama satu bulan.

"Perlu diingat kenaikan itu harus monthly basis sesuai dengan patokan ICP yang dikeluarkan setiap bulan sekali," ujar Hadi.

Menurut dia, penurunan harga minyak mentah Brent dari sekitar US$95 per barel menjadi kisaran US$83 per barel dalam waktu singkat tergolong signifikan dan dipicu oleh meredanya konflik di Timur Tengah.

Hadi memperkirakan harga minyak dunia dalam jangka menengah dapat kembali ke kisaran normal, yakni US$60 hingga US$70 per barel. Jika tren pelemahan harga minyak bertahan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi berpeluang dilakukan pada pertengahan Juli.

"Karena saat itu rata rata kurs setengah harga mendekati US$70 par barel. Nota perdamaian kelihatannya sudah fix dan diratifikasi banyak pihak kecuali Israel, sehingga menjadi bukti validasi kuat untuk release blokade," ucapnya.

"Pencabutan sanksi dan ekonomi dunia akan bergerak normal setelah 20 juta barel supply minyak dari Teluk Persia kembali masuk pasar dunia," jelasnya.

Add as a preferred
source on Google
Manfaatkan Momentum Harga Turun BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2