HARI ANTINARKOTIKA DUNIA

Kecanduan Narkoba Bisa Sembuh Enggak Sih?

Elise Dwi Ratnasari | VoxPop
Jumat, 26 Jun 2026 09:45 WIB
Rehabilitasi untuk menyembuhkan adiksi narkoba.
Ilustrasi. Selain dampak terhadap kesehatan, satu hal yang menakutkan dari penggunaan narkoba adalah kecanduan atau adiksi. (Stockphoto/kieferpix)
Jakarta, VoxPop --

Selain dampak terhadap kesehatan, satu hal yang menakutkan dari penggunaan narkoba adalah kecanduan atau adiksi.

Pada banyak kasus adiksi, rehabilitasi biasanya menjadi solusi. Pertanyaannya, apakah rehabilitasi bisa membuat pecandu narkoba benar-benar sembuh?.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada sebuah cuitan unik di media sosial yang mempertanyakan kenapa orang bisa terpikir untuk menggunakan narkoba, padahal ada mi instan yang rasanya lebih enak.

Sayangnya, alasan penggunaan narkoba bukan sekadar cari enak. Hari Nugroho, peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN), mengatakan bahwa alasan seseorang memutuskan untuk menggunakan narkoba umumnya ada dua, yakni to feel good (merasakan kesenangan) dan to feel better (merasa lebih baik).

"Paling sering feel better, self medicate, mengobati entah itu gangguan fisik atau psikis," kata Hari saat berbincang dengan VoxPop.com, Selasa (23/6).

Self medicate merupakan upaya untuk membuat kondisi sakit (pain), baik secara fisik maupun psikologis, menjadi lebih baik. Ada yang pakai narkoba untuk mengatasi stres, depresi, atau cemas. Ada pula yang pakai narkoba untuk meringankan nyeri fisik atau kronis.

Sayangnya, lanjut Hari, penggunaan obat-obatan terlarang akan memengaruhi otak, khususnya reward system. Reward system inilah yang membuat orang dapat merasakan euforia dan kesenangan.

Penggunaan secara intens dan rutin membuat otak beradaptasi. Mulanya hanya coba-coba sedikit, tapi karena otak sudah beradaptasi, kesenangan dan rasa nyaman itu perlahan tidak terasa lagi. Otak pun menerjemahkan situasi ini sebagai 'dosis yang kurang'.

"Kemudian timbul impulsivitas dan konklusivitas tubuh dan otak. Mikirnya bagaimana bisa mendapatkan kenyamanan tanpa mikir yang lain, fokus ke situ. Inilah yang kemudian [disebut] mengalami adiksi," imbuh Hari.

Rehabilitasi demi kontrol adiksi

Rehabilitasi jadi jalan keluar untuk menangani adiksi narkoba. Hari berkata, sebagian masyarakat masih menganggap rehabilitasi pengguna narkoba hanya seputar aspek moral.

Pengguna narkoba dianggap bakal diganjar hukuman, diasingkan, atau dibatasi kebebasannya. Padahal, kasus adiksi sama halnya dengan kasus penyakit kronis. Treatment selama rehabilitasi pun saling berbeda, tergantung tingkat keparahan.

"Kriteria diagnosis ada dalam DSM V, ada cut off point-nya. Jadi ada 11 kriteria. Kalau memenuhi 2-3 kriteria berarti adiksinya masuk kategori ringan. Kalau ada 4-5 gejala, masuk kategori sedang dan kalau ada 6 atau lebih, masuknya berat," jelasnya.

Konseling selama rehabilitasi adiksi narkobaIlustrasi. Treatment selama rehabilitasi bergantung dari tingkat keparahan adiksi. Untuk kategori ringan bisa berupa diskusi terkait dampak penggunaan narkoba dan apa yang dirasakan pasien. (Sherley Gucci Permata Sari)

Masing-masing kategori ditangani dengan treatment berbeda. Pada kategori ringan, pasien mungkin hanya memerlukan intervensi singkat seperti diskusi dampak penggunaan narkoba, lalu apa saja yang dirasakan.

Sementara itu, kategori sedang bisa memerlukan konseling lebih intens. Konseling ini bertujuan menemukan akar masalah penggunaan narkoba. Pasien bisa saja menghadapi masalah sosial, konflik dengan keluarga, atau trauma.

"Pada kategori berat, itu bisa dia enggak kerja, relapse terus, pakai terus jadi butuh rawat inap," kata Hari.

Selain itu juga terdapat terapi farmakologi tergantung dari jenis narkoba yang sebelumnya digunakan.

Tapi, yang perlu diingat adalah meski sudah menjalani rehabilitasi, bukan berarti seorang yang pernah kecanduan narkoba bakal dinyatakan sembuh. Seperti halnya penyakit kronis lain, kecanduan bisa kambuh, tapi bisa dikontrol.

Hari menjelaskan, pasien bisa saja beralih ke zat lain untuk menutup dampak adiksi zat sebelumnya. Biasanya menggunakan heroin, misal, lalu ganti obat lain atau alkohol demi merasakan nyaman.

"Mereka berpikir yang gampang untuk bisa mengatasi gejala. Kadang bisa beralih ke adiksi perilaku. Banyak pasien yang misalnya pengguna sabu, amfetamin, lalu judi online lebih sering," katanya.

Hingga kini belum ada obat atau terapi khusus yang mampu menyembuhkan adiksi. Ada berbagai temuan dan kembangan terapi seperti penggunaan neuromodulasi, stimulasi otak [lewat] transmagnetic stimulation, bedah otak, juga ada peneliti yang mengembangkan vaksin antiadiksi.

Menurut dia, ada usaha yang dikerjakan untuk menangani adiksi tidak hanya secara psikososial, tapi juga mengatasi masalah biologisnya.

Perlu dukungan

Rehabilitasi tidak serta merta membuat seseorang tidak kembali terjerumus jerat narkoba. Menurut Hari, kekambuhan bisa terjadi akibat komunikasi atau dukungan yang minim dari orang-orang terdekat pasien.

"Orang itu seperti diberi label oleh keluarga. Pulang telat sedikit ditanya 'Dari mana? Abis make ya?'. Labeling terus, lalu yang terjadi adalah dia mikir, 'Ah sekalian aja'," jelasnya.

Faktor pekerjaan juga bisa berkontribusi terhadap kembalinya seseorang ke jerat narkoba meski telah menjalani rehabilitasi. Contohnya, pasien pengguna Tramadol umumnya berasal dari kalangan pekerja kasar. Saat kembali bekerja kasar seperti sedia kala, bukan tak mungkin kebutuhan akan Tramadol muncul kembali.

Rehabilitasi perlu dibarengi dengan edukasi tentang manajemen nyeri tanpa harus menyalahgunakan obat tertentu atau mencari alternatif pekerjaan lain jika memungkinkan.

Perlu dukungan keluarga untuk bisa lepas dari adiksi narkobaIlustrasi. Perlu dukungan dari berbagai pihak terutama keluarga. Seseorang bisa kembali kecanduan akibat komunikasi dan dukungan yang minim dari keluarga. (iStock/ferlistockphoto)

Yang jelas, upaya lepas dari adiksi narkoba perlu dukungan dari berbagai pihak. Menurut Hari, masyarakat harus berhenti memberikan label 'sampah masyarakat' terhadap mereka yang pernah menggunakan narkoba.

"Lalu kesempatan untuk mencari penghidupan yang layak. Faktor sosial ekonomi punya peran untuk relapse. Kadang ada orang melabeli orang yang pakai, adiksi itu enggak bisa dipercaya, banyak bohongnya. Itu anggapan yang tidak sepenuhnya benar," ujarnya.

"Masyarakat harus mulai terbuka. Banyak kok yang bisa sukses atau sustain recovery-nya, enggak balik pakai lagi," pungkas dia.

(asr) Add as a preferred
source on Google