Turis Kegerahan Imbas Gelombang Panas, Hotel-hotel Eropa Tak Punya AC

VoxPop
Minggu, 09 Agu 2026 22:01 WIB
Turis Kegerahan Imbas Gelombang Panas, Hotel-hotel Eropa Tak Punya AC
Ilustrasi turis di tengah gelombang panas yang menimpa wilaya Benua Eropa. (Alberto PIZZOLI / AFP)
Jakarta, VoxPop --

Antusiasme ribuan turis yang berlibur ke Eropa di tengah puncak musim panas mendadak berubah menjadi kekecewaan. Fenomena gelombang panas yang melanda Benua Biru dihadapkan pada kenyataan pahit, yakni minimnya fasilitas pendingin ruangan (AC) di kamar-kamar hotel.

Setelah merogoh kocek hingga ratusan euro per malam di musim liburan, para turis dibuat terkejut karena tidak memiliki perlindungan sama sekali untuk menghadapi sengatan suhu udara Eropa yang mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius.

Kekesalan para pelancong ini memicu gelombang konten viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok, X (dulu Twitter), dan Reddit. Banyak wisatawan mengunggah video yang memperlihatkan kondisi kamar mereka yang kuyu dan gerah, sekaligus menyindir fasilitas penginapan berharga mahal di kota-kota besar seperti Paris, Roma, dan London.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya ketiadaan AC, biaya tersembunyi dari hotel-hotel tertentu di Eropa juga menambah kekesalan wisatawan.

Mengutip portal perjalanan Europe Express, sejumlah penginapan-terutama di kawasan Eropa Selatan seperti Italia-mengenakan biaya pangkas harian tambahan sekitar 10 hingga 15 euro atau sekitar Rp206 ribu hingga Rp308 ribu hanya untuk mengaktifkan fasilitas AC di dalam kamar.

Suhu panas ekstrem melebihi 40 derajat Celsius sempat menerjang Prancis, Spanyol, dan negara-negara tetangga pada akhir Juli lalu, yang menandai gelombang panas keempat yang menghantam Eropa sejak Mei.

Berbagai studi menunjukkan bahwa Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, yakni dua kali lipat lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Meski demikian, penggunaan AC di Eropa masih sangat langka dengan tingkat penetrasi hanya sekitar 20 persen, jauh tertinggal dibandingkan Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai 90 persen.

Kendala utama minimnya penggunaan AC terletak pada faktor historis arsitektur bangunan. Banyak hotel di Eropa menempati gedung-gedung tua yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Melansir VN Express, memasang sistem AC modern pada bangunan berusia 400 tahun membutuhkan biaya yang sangat fantastis, bahkan dalam banyak kasus secara fisik mustahil dilakukan atau terhalang oleh undang-undang perlindungan cagar budaya yang ketat.

Selain itu, struktur bangunan tradisional Eropa pada dasarnya memang dirancang khusus untuk menyimpan panas selama musim dingin.

Malcolm Mistry, asisten profesor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, menjelaskan dalam laporan majalah TIME bahwa rumah-rumah di negara seperti Inggris dan Prancis secara alami berfungsi "seperti tungku pemanas" saat musim panas tiba.

Bahkan jika pengelola hotel berniat memasang pendingin udara, aturan iklim Uni Eropa yang ketat menjadi tembok penghalang berikutnya. Uni Eropa menargetkan penghapusan bertahap hidrofluorokarbon (bahan pendingin umum pada AC yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca) pada tahun 2050.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]