Cara Keji Kartel Narkoba Jadikan Tunawisma Eksperimen Fentanyl
Peristiwanya sudah cukup lama, sejak 2020 silam. Namun, publik di Meksiko terus dilanda resah dan ketakutan.
Sebab, beberapa gelandangan di Tijuana, sebuah kota yang berjarak 1.900 kilometer dari ibu kota Meksiko City, ditemukan tewas tak wajar.
Hasil otopsi mereka tewas karena mengkonsumsi zat fentanyl.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua jurnalis di Meksiko Manuel Ayala dan fotografer Joebeth Terriquez, mengungkap tren mengejutkan saat menyelidiki tunawisma dan penggunaan fentanyl.
Ternyata, kartel narkoba secara luas memproduksi fentanil di sudut-sudut dan saluran pembuangan di dalam kanal Sungai Tijuana tepat di selatan perbatasan, dan para tunawisma digunakan sebagai kelinci percobaan manusia untuk menguji potensi obat tersebut, yang telah menyebabkan banyak peserta eksperimen ini meninggal dunia, seperti dilaporkan laman Border Report.
Investigasi di Tijuana mengungkapkan bahwa kartel narkoba tidak hanya memproduksi fentanyl, tetapi juga memberikannya kepada para tunawisma yang tinggal di sepanjang kanal Sungai Tijuana di selatan perbatasan sebagai cara untuk meneliti efek obat tersebut.
Banyak tunawisma yang ikut serta dalam eksperimen manusia ini meninggal setelah overdosis fentanil gratis.
Manuel dan Terriquez menyaksikan para pengedar mengendarai mobil dan membagikan fentanyl kepada para tunawisma di sepanjang tepi kanal.
Menurut Ayala, dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya 20 orang meninggal karena overdosis setelah mengonsumsi fentanyl gratis. Dia yakin jumlahnya jauh lebih tinggi karena polisi tidak berupaya keras untuk menyelidiki kasus overdosis. Apalagi saat ini, tahun 2026, ketika krisis ekonomi makin menguat dan kartel narkoba makin sulit dikendalikan.
"Sayangnya, polisi dan masyarakat tidak peduli dengan orang-orang ini dan kita sebenarnya tidak tahu siapa yang meninggal dan berapa banyak yang telah meninggal."
Para pengedar mengendarai mobil dan membagikan fentanyl kepada para tunawisma di sepanjang tepi kanal.
Obat tersebut adalah obat penghilang rasa sakit sintetis yang konon 50 hingga 100 kali lebih kuat daripada morfin. Ketika dicampur dengan heroin, seperti yang dilakukan sebagian besar tunawisma menurut Ayala, obat itu dikatakan dapat menimbulkan efek euforia yang sangat kuat.
"Mereka memberikannya secara cuma-cuma untuk melihat bagaimana efek obat tersebut terhadap orang-orang, bagaimana reaksi mereka setelah mengonsumsinya," kata Ayala, yang investigasinya diterbitkan oleh Majalah Buzos de la Noticia di Baja California.
Ayala mengatakan bahwa eksperimen dengan para tunawisma ini membantu kartel merancang fentanyl yang lebih kuat, dan sebagian besar akan diedarkan di Amerika Serikat.
Menurut National Institute on Drug Use, fentanyl telah membunuh lebih banyak warga Amerika daripada obat-obatan terlarang lainnya dalam beberapa tahun terakhir.
Kasus ini mengungkap jaringan internasional yang telah dibangun oleh kartel Meksiko - dan metode bisnis yang mereka gunakan untuk mendominasi pasar fentanyl yang menguntungkan.
The Guardian melaporkan sejak 2016, organisasi kriminal Meksiko menggunakan strategi yang sama seperti bisnis lainnya: mereka berupaya memaksimalkan keuntungan, mereka menggunakan jasa spesialis dan mereka terus beradaptasi untuk mencerminkan perubahan peraturan internasional.
Meskipun pemimpinnya yang paling terkenal, Joaquín "El Chapo" Guzmán, telah dihabisi, kartel Sinaloa tetap menjadi kekuatan dominan dalam perdagangan narkoba.
Laporan Badan Anti Narkoba Amerika Serikat (DEA) Oktober 2019 menggambarkan kelompok tersebut sebagai "produsen dan pengedar fentanyl terkemuka yang berbasis di Meksiko ke Amerika Serikat".
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


