Netanyahu Dicap 'Bunuh Diri' Jika Mau Rusak MoU Damai AS-Iran

VoxPop
Kamis, 18 Jun 2026 12:45 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu addresses the 80th United Nations General Assembly (UNGA) at U.N. headquarters in New York City, U.S., September 26, 2025. REUTERS/Jeenah Moon REFILE- QUALITY REPEAT     TPX IMAGES OF THE DAY
PM Israel Benjamin Netanyahu berada dalam posisi tercekik lantaran keputusan AS meneken MoU menghentikan perang dengan Iran tak sejalan dengan keinginannya. (Foto: REUTERS/Jeenah Moon)
Jakarta, VoxPop --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada dalam posisi tercekik lantaran keputusan Amerika Serikat untuk meneken nota kesepahaman (MoU) menghentikan perang dengan Iran tak sejalan dengan keinginannya.

Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa Israel belum selesai memerangi Iran dan sekutunya Hizbullah, dengan melancarkan serangan ke Lebanon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Presiden AS Donald mengakui sikap Netanyahu mempersulit upayanya menghentikan perang. Ia bahkan mengaku frustrasi menghadapi Israel dan serangannya ke Lebanon yang bisa mengganggu perundingan AS-Iran.

Trump blak-blakan mengatakan jika bukan tanpa dirinya, tidak akan ada Israel dan Tel Aviv seharusnya manut dan berterima kasih karena keamanan negara Zionis itu bisa terjamin.

"Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang sudah saya lakukan," kata Trump kepada awak media pada Selasa (16/6) saat ditanya soal Netanyahu dikutip CNN.

Analis politik Israel Akiva Eldar mengatakan Netanyahu telah menempatkan dirinya dalam posisi sulit karena terlalu erat menyelaraskan diri dengan Trump. 

Menurut Eldar, hal itu membuat Netanyahu saat ini tidak memiliki pilihan selain manut dan mengikuti game plan Trump terkait Iran. Salah satunya, menghentikan serangan ke Lebanon yang menjadi bagian dari syarat gencatan senjata AS-Iran.

"Menolak Presiden Trump secara terang-terangan dan tetap bertahan di Lebanon adalah langkah bunuh diri secara politik baginya," kata Eldar kepada Al Jazeera.

Ia menilai Netanyahu melihat situasi saat ini melalui kacamata pemilu Israel yang akan datang.

"Netanyahu sedang bermain, baik secara politik maupun diplomatik, dengan punggung menempel ke dinding," ujar Eldar.

"Jika ia menerima dikte Amerika Serikat, itu akan menjadi preseden, karena selama ini Netanyahu terus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin yang mampu mengatakan tidak kepada Presiden Amerika Serikat," paparnya menambahkan.

Sementara itu, program-program komentar politik di televisi Israel dilaporkan mengalami kepanikan kolektif setelah teks MoU sementara AS-Iran mulai beredar di media Israel.

Bagi publik Israel, mereka meyakini perang yang didorong Tel Aviv agar dilancarkan AS terhadap Iran ini harus berakhir dengan perubahan rezim di Iran.

Selain itu, perang AS ke Iran ini bukan hanya memastikan program nuklir Iran berhenti, tetapi juga kemampuan Teheran untuk memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik di masa depan turut berhenti.

Publik dan pejabat Israel bahkan menilai kesepakatan MoU AS-Iran ini sebagai mimpi buruk. Sebab, tidak satu pun dari tujuan-tujuan Israel tercantum dalam draf MoU yang bocor itu.

Dari sudut pandang Israel, tidak adanya kesepakatan justru dianggap lebih baik daripada kesepakatan yang ada saat ini.

Yang semakin membuat Israel ketar-ketir adalah dokumen tersebut tidak melarang Iran melakukan pengayaan uranium, tidak menyinggung program rudal balistik Iran, dan tidak membahas sekutu-sekutu regional Teheran, termasuk Hizbullah.

Sebaliknya, penghentian perang di Lebanon justru secara eksplisit dicantumkan dalam kesepakatan.

Semua hal itu dinilai tidak menguntungkan bagi Netanyahu, mitra-mitra koalisinya, maupun opini publik Israel yang mayoritas masih menentang penghentian perang terhadap Iran dan Lebanon.

Terkait konflik antara Israel dan Hizbullah, Netanyahu memiliki taruhan yang sangat besar, baik secara politik maupun pribadi.

Diketahui, Netanyahu juga masih menghadapi berbagai tuduhan yang berpotensi berujung pada proses hukum pidana korupsi, yang kemungkinan harus ia hadapi jika kalah dalam pemilu berikutnya.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]