WHO: 1.300 Orang Tewas Imbas Gelombang Panas di Eropa

VoxPop
Senin, 29 Jun 2026 12:11 WIB
A man carrying an air fan walks down a street during a heatwave in Lyon, central-eastern France, on June 24, 2026. France experienced its hottest day ever recorded on June 24, 2026, surpassing the record set the previous day, according to national we
Warga borong AC di tengah panas ekstrem di Prancis. Foto: AFP/OLIVIER CHASSIGNOLE
Jakarta, VoxPop --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 orang tewas imbas gelombang panas (heatwave) menghantam sejumlah negara di Eropa sejak Juni.

Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan fenomena gelombang panas kini menjadi fenomena setiap tahun dan mengkhawatirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lebih dari 1.300 kematian berlebih sudah tercatat sejak 21 Juni terkait dengan suhu tinggi di Eropa," kata Ghebreyesus di X.

Dia juga mengatakan gelombang panas kerap disebut "pembunuh diam-diam" dan fasilitas di Eropa termasuk sekolah hingga perkantoran tidak dibangun untuk suhu ekstrem.

Imbas cuaca panas ekstrem itu, Ghebreyesus mengatakan sekolah-sekolah ditutup dan jaringan listrik mulai kolaps.

Dia mengatakan WHO bekerja sama dengan negara anggota akan berusaha mengatasi ancaman kesehatan imbas gelombang panas itu. Mereka bakal fokus ke kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat.

"Secara khusus, kami mendorong negara-negara Eropa menerapkan rencana aksi kesehatan panas, untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim," kata Ghebreyesus.

Sejumlah negara di Eropa termasuk Prancis, Jerman, dan Polandia tengah menghadapi cuaca panas ekstrem. Di Prancis, sejumlah wilayah mencatat suhu 36 hingga 40 derajat Celsius.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) bahkan melaporkan gelombang panas memicu sekitar 1.000 kematian pada pekan ini.

"Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka sementara yang belum dikonsolidasikan) sudah tercatat dibandingkan jumlah kematian di bulan-bulan sebelumnya," demikian mernuruh badan itu, dikutip AFP.

(isa/dna) Add as a preferred
source on Google