RD Kongo Cetak Sejarah Piala Dunia Meski Negaranya Darurat Ebola

VoxPop
Senin, 29 Jun 2026 16:49 WIB
RD Kongo darurat ebola ganas.
RD Kongo darurat ebola ganas. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Daftar Isi
Jakarta, VoxPop --

Pencapaian Republik Demokratik Kongo di Piala Dunia 2026 membetot perhatian para pencinta sepak bola dunia.

Kongo kembali tampil setelah menunggu lebih dari setengah abad, setelah tampil di ajang yang sama pada 1974 silam.

Di bawah arahan pelatih Sebastien Desabre, Kongo lolos ke Piala Dunia 2026 melalui jalur playoff antarbenua setelah mengalahkan Jamaika 1-0 berkat gol Axel Tuanzebe pada babak tambahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian sukses menundukkan Uzbekistan 3-1 di pertandingan pamungkas Grup K Piala Dunia 2026 hingga membawanya ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 lewat jalur peringkat ketiga terbaik, usai mengoleksi 4 poin dari tiga laga di fase grup.

RD Kongo akan berhadapan dengan timnas Inggris di babak 32 besar Piala Dunia pada Rabu (1/7) di Stadion Atlanta, AS.

Ebola di balik prestasi sepak bola

Di balik keberhasilan lolos ke babak 32 besar, RD Kongo menyimpan nestapa. Sebelum tiba di Amerika Serikat, skuad Kongo harus menjalani isolasi selama tiga minggu di Eropa karena wabah Ebola di negara asal mereka.

Skuad tersebut tiba dengan penerbangan dari Paris, setelah pihak berwenang AS bersikeras agar mereka menjalani masa karantina di Belgia atau berisiko ditolak masuk untuk turnamen tersebut.

Pelatih kepala Sebastien Desabre mengatakan dia berharap timnya akan menampilkan "pertunjukan yang baik" dan membawa sedikit kegembiraan bagi rekan senegaranya yang sedang menghadapi wabah virus.

"Sudah lama sejak orang-orang melihat tim ini di Piala Dunia," kata pria Prancis itu seperti diberitakan Al Jazeera.

Kenapa cepat menyebar di RD Kongo?

Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) sudah menyatakan bahwa bagian timur Republik Demokratik Kongo menghadapi "benturan dahsyat antara penyakit dan konflik" karena wabah Ebola yang menyebar dengan cepat melampaui upaya penahanan di wilayah yang sudah porak-poranda oleh kekerasan bersenjata, pengungsian massal, dan kelaparan akut.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan wabah virus Ebola Bundibugyo di provinsi Ituri menyebar di lingkungan di mana ketidakamanan, serangan terhadap fasilitas kesehatan, dan pergerakan penduduk membuat pelacakan kontak dan isolasi kasus menjadi "hampir mustahil".

"Kita tidak bisa membangun kepercayaan masyarakat atau mengisolasi orang sakit sementara bom terus berjatuhan," kata Ghebreyesus.

Apa varian Ebola ganas di RD Kongo?

Varian Bundibugyo dari Ebola, yang pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 2007, belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.

Hingga Kementerian Kesehatan RD Kongo melaporkan total 1.155 kasus terkonfirmasi, termasuk 304 kematian terkait yang terkonfirmasi, dan 385 orang dirawat di rumah sakit dalam isolasi (per 24 Juni). Laporan ini mencakup 37 kasus terkonfirmasi baru dan lima kematian baru sejak pembaruan terakhir di situs web ECDC (25 Juni, dengan data per 23 Juni).

Mengutip laman WHO Afrika, virus Ebola adalah penyakit langka dan ganas, serta seringkali berakibat fatal pada manusia. Penyakit ini ditularkan ke manusia melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi seperti kelelawar buah (yang dianggap sebagai inang alami).

Penularan dari manusia ke manusia terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh seseorang yang sakit atau telah meninggal karena Ebola, benda-benda yang telah terkontaminasi cairan tubuh dari seseorang yang sakit Ebola, atau tubuh seseorang yang telah meninggal karena Ebola.

Mengapa mudah berulang di RD Kongo?

Ini adalah kasus ke 17 yang melanda negara tersebut sejak pertama ditemukan pada 1974 silam.Ada beberapa faktor yang menyebabkan pengulangan, pertama banyak kelelawar membawa virus dan menginfeksi hewan liar.

Di negara ini, hewan liar ini dikonsumsi sebagai sumber protein populer dan kesadaran masyarakat tentang kemungkinan risiko infeksi masih rendah.

Selain itu, kebersihan yang buruk dan fasilitas cuci tangan yang tidak memadai di tempat-tempat umum seperti halte bus, pasar, gereja, sekolah, universitas, atau rumah sakit. Karena banyak fasilitas kesehatan juga dalam kondisi sanitasi yang buruk, virus dapat menyebar lebih cepat.

Daerah utama yang terdampak adalah daerah yang sangat miskin, di mana masyarakat masih menderita akibat konflik bersenjata. Hampir tidak ada infrastruktur, jalanan buruk, dan kota-kota sulit diakses.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]