Turki Yakinkan Iran Pakta Mekkah Mirip NATO Bukan Buat Lawan Teheran
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan pakta pertahanan trilateral dengan Arab Saudi dan Pakistan yang dikenal Perjanjian Mekkah tak menganggap Iran sebagai ancaman bersama.
Tak cuma Iran, Fidan menegaskan tak ada negara lain yang dianggap sebagai ancaman dalam pakta yang mirip Aliansi Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO) ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan secara tertulis," kata dia kepada Anadolu Agency, Sabtu (8/8).
Fidan juga menegaskan perjanjian tersebut tak menargetkan negara mana pun yang tak menyerang negara yang menandatangani pakta. Lebih lanjut, dia menyebut diskusi inisiatif itu sebetulnya sudah berlangsung lama, bahkan sebelum perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran.
Di kesempatan itu, Fidan menekankan bahwa Turki, Saudi, dan Pakistan bukan lah negara yang memiliki kebijakan ekspansionis.
"Mereka adalah negara-negata yang peduli dengan perbatasan mereka sendiri, masalah mereka sendiri, dan pembangunan mereka," kata Fidan.
Dia lalu berujar, "Dan jika memungkinkan mereka ingin memberikan kontribusi positif bagi lingkungan mereka melalui hubungan baik dan sikap bertetangga yang positif."
Organisasi ini, lanjut Fidan, berorientasi pada pertahanan bukan serangan dan bukan pula pendekatan ofensif.
"Mari kita lakukan ini atau itu bersama-sama. Oleh karena itu, kecuali diserang suatu negara, baik dari dalam maupun luar kawasan, aliansi ini tak bisa punya perselisihan dengan negara mana pun."
Fidan lalu menggambarkan perjanjian itu sebagai hari bersejarah dan merupakan salah satu tonggak penting yang diupayakan Turki di bawah pemerintahan Recep Tayyip Erdogan.
Pakta pertahanan tersebut menjadi sorotan karena menyerupai NATO. Salah satu pasal NATO berisi jika salah satu anggota diserang maka akan dianggap sebagai serangan ke seluruh anggota.
Dalam Pakta Pertahanan Bersama Mekkah, ada klausul yang mirip bahwa serangan terhadap salah satu dari tiga negara itu akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiga anggota.
Penandatangan perjanjian itu juga berlangsung saat AS dan Iran terus berperang. Di tengah konflik ini, Arab Saudi dan milisi pro Iran, Hourhi juga sempat saling gempur. Riyadh merupakan sekutu dekat Washington di Timur Tengah.
(isa/rds)[Gambas:Video CNN]
