Piala Dunia 2014: Jerman Bikin Messi Menangis di Rio de Janeiro
VoxPop
Senin, 08 Jun 2026 18:25 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Jerman raih gelar keempat Piala Dunia usai kalahkan Argentina di Rio de Janeiro. (AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI)
Jakarta, VoxPop --
Jerman menyabet gelar Piala Dunia keempat di Brasil 2014 usai mengalahkan Argentina di final yang membuat Lionel Messi pulang dengan air mata.
Di lain sisi, gelaran turnamen juga dikenang karena kekalahan memalukan tuan rumah Brasil dengan skor 1-7 dari Die Mannschaft di semifinal.
Piala Dunia 2014 kembali ke Amerika Selatan untuk pertama kalinya sejak Argentina menjadi tuan rumah pada 1978. Brasil, negara yang selama ini dianggap sebagai rumah spiritual sepak bola dunia, menjadi tuan rumah dengan ekspektasi besar dari publik domestik yang mendambakan gelar keenam.
Namun bayangan masa lalu selalu menghantui tim Samba sebelum perhelatan dimulai. Kekalahan traumatis di hadapan publik sendiri pada final Piala Dunia 1950 dari Uruguay yang dikenal sebagai Maracanazo masih menjadi luka yang belum sembuh dalam ingatan kolektif bangsa.
Spanyol masuk sebagai juara bertahan sekaligus pemegang gelar Piala Eropa 2008 dan 2012. La Furia Roja jadi kandidat kuat untuk mempertahankan mahkota. Namun takdir berkata sebaliknya. Spanyol langsung tersungkur usai kekalahan 1-5 dari Belanda di laga pembuka, disusul kekalahan 0-2 dari Chile.
Spanyol tersingkir di fase grup usai dua laga menyedihkan itu. La Roja mengikuti jejak Prancis 2002 dan Italia 2010 sebagai juara bertahan yang gagal melewati babak penyisihan.
Brasil kalah 1-7 dari Brasil di Piala Dunia 2014. (AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI)
Brasil sendiri lolos dari fase grup sebagai pemuncak klasemen dengan tujuh poin. Namun perhatian tertuju pada performa mereka yang tidak sepenuhnya meyakinkan. Untungnya tim Samba tetap mampu melaju ke fase gugur.
Di babak 16 besar, Brasil menghadapi Kolombia dan menang, namun harus rela kehilangan Neymar yang mengalami retak tulang punggung akibat tekel keras Juan Zuniga. Absennya sang bintang menjadi pukulan berat bagi Selecao menjelang babak semifinal.
Baca di halaman selanjutnya>>>
Semifinal pertama antara Brasil dan Jerman digelar di Belo Horizonte pada 8 Juli 2014, dan menjadi salah satu hasil paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia.
Thomas Muller membuka keunggulan di menit ke-11, dan dalam rentang enam menit antara menit ke-23 hingga ke-29, Jerman mencetak empat gol tambahan untuk memimpin 5-0 hingga jeda turun minum.
Jerman akhirnya menang 7-1 dengan dua gol tambahan dari Andre Schurrle di babak kedua. Gol hiburan Oscar di menit akhir tidak mampu meredam kesedihan ratusan juta penonton yang menyaksikan Brasil menanggung kekalahan terbesar dalam sejarah mereka di Piala Dunia.
Miroslav Klose mencetak salah satu gol dalam laga tersebut dan menggenapkan total golnya di Piala Dunia menjadi 16. Klose melampaui rekor 15 gol Ronaldo Nazario untuk menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.
Di semifinal "tetangga", Argentina menyingkirkan Belanda lewat adu penalti setelah laga berakhir 0-0 hingga waktu tambahan. Argentina lolos ke final untuk pertama kalinya sejak 1990.
Final berlangsung pada 13 Juli di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, di hadapan lebih dari 74.000 penonton. Kedua tim menurunkan susunan pemain yang hampir sama seperti di semifinal.
Gonzalo Higuain menyia-nyiakan peluang emas Argentina saat ia menyambut kesalahan antisipasi Toni Kroos. Sayang peluang tersebut malah menjelma mimpi buruk Higuain lantaran sepakannya melenceng.
Sembilan puluh menit berakhir tanpa gol dan kedua tim masuk ke babak tambahan waktu dengan kondisi fisik yang sama-sama terkuras.
Gol penentu akhirnya datang pada menit ke-113. Schurrle mengirim umpan silang dari sisi kiri. Mario Gotze yang baru masuk sebagai pengganti menyambutnya dengan dada sebelum melepas tembakan voli kaki kiri yang bersarang di sudut gawang.
Jerman pun menang 1-0 dan meraih gelar Piala Dunia keempat, sekaligus menjadi tim Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia di tanah Amerika Latin.
Meski Argentina takluk di final, Messi tetap dinobatkan penghargaan Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen. Tetapi, wajahnya yang tertunduk lesu saat menerima trofi itu seakan mengisyaratkan makna yang hampa.