Apakah Bulan Juni Masih Sering Hujan di RI?

VoxPop
Sabtu, 20 Jun 2026 12:30 WIB
BMKG memperkirakan hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia meski musim kemarau meluas.
BMKG memperkirakan hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia meski musim kemarau meluas. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, VoxPop --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan masih berpotensi mengguyur beberapa wilayah. Namun, intensitasnya diperkirakan menurun seiring dengan semakin meluasnya musim kemarau.

"Memasuki Dasarian III Juni 2026, wilayah Indonesia yang berada pada periode musim kemarau diprakirakan semakin bertambah. Pada periode tersebut, sifat hujan selama musim kemarau secara umum diprediksi berada pada kategori bawah normal," tulis BMKG dalam Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 19-25 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut BMKG, sifat hujan dengan kategori di bawah normal ini terjadi di antaranya di sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan indikator El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan menuju fase hangat dengan intensitas moderate di wilayah Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur. Hal ini ditunjukkan oleh nilai indeks Niño 3.4 sebesar +0,92 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -23,1, yang secara umum dapat berkontribusi terhadap berkurangnya peluang pembentukan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Meski demikian, BMKG menyebut potensi hujan masih tetap perlu diwaspadai karena dinamika atmosfer regional maupun faktor lokal masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa daerah.

Dalam periode sepekan ke depan, pola siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua Barat dan di Samudra Hindia barat Sumatra, yang dapat memicu terbentuknya pola perlambatan dan pertemuan angin.

Selain itu, kondisi atmosfer lokal di beberapa wilayah juga masih menunjukkan tingkat labilitas yang mendukung proses konveksi.

Kondisi udara yang labil tersebut berpotensi memperkuat pertumbuhan awan konvektif, khususnya di wilayah Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.

"Dengan adanya kombinasi faktor-faktor tersebut, peluang hujan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari mendatang, meskipun secara umum sebagian wilayah telah memasuki periode musim kemarau," jelas BMKG.

Beberapa wilayah bahkan masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat seperti Sumatra Utara dan Kepulauan Bangka Belitung pada 19-21 Juni, serta Papua Pegunungan pada 22-25 Juni.

Hujan bulan Juni

Berdasarkan analisis dasarian I Juni 2026, wilayah yang mengalami musim kemarau di Indonesia semakin meluas, meliputi sebagian Sumatra, sebagian besar Jawa, sebagian Bali, sebagian besar Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Papua Selatan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal peningkatan jumlah wilayah yang mengalami penurunan curah hujan.

Meski demikian, hujan dengan intensitas signifikan masih tercatat di sejumlah wilayah, terutama Indonesia bagian utara dan wilayah ekuator.

Pada periode 15-18 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat terjadi di Kalimantan Barat (165 mm/hari), Sumatra Utara (113 mm/hari), Aceh (96 mm/hari), Sumatra Barat (94 mm/hari), Jambi (74 mm/hari), dan Kepulauan Riau (62 mm/hari).

"Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di wilayah Sumatra, Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra yang membentuk daerah konvergensi dan belokan angin," kata BMKG.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]