Netanyahu Ngeyel Duduki Lebanon Selatan, Ini Ultimatum Komandan Iran

VoxPop
Senin, 22 Jun 2026 13:45 WIB
Iranian Quds force commander Esmail Ghaani speaks during a ceremony on the occasion of the first anniversary of death of former Iran's Quds force commander Qasem Soleimani in Tehran, on January 1, 2021. Iran's judiciary chief Ebrahim Raisi warned tha
Komandan Brigade Al Quds Iran Jenderal Esmail Qaani. (Foto: AFP/STR)
Jakarta, VoxPop --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan militernya akan tetap berada di Lebanon selatan "selama diperlukan". Hal ini dilakukan terlepas dari kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran yang mengikat Israel untuk menghentikan agresi ke negara tetangganya itu.

"Kami akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan untuk melindungi warga yang kami cintai di wilayah utara dan seluruh warga Israel. Tidak ada yang akan mengubah komitmen tersebut," kata Netanyahu pada Minggu (21/6).

Sementara itu, Netanyahu juga menegaskan Israel tetap tak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir terlepas bagaimana caranya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mengenai Iran, apa pun perkembangan politik yang mungkin terjadi, saya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Selama saya menjabat sebagai perdana menteri Israel, hal itu tidak akan terjadi," paparnya menambahkan seperti dikutip AFP.

Dalam acara publik yang digelar pada hari yang sama, Netanyahu kembali menegaskan bahwa perang di Timur Tengah telah mencapai tujuan utama Israel, yakni mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

"Kami mencegah Iran menjalankan rencana untuk memusnahkan kami, dan hari ini mereka seharusnya sudah memiliki bom atom untuk melakukannya," ujarnya.

"Kami berhasil mencegah hal itu terjadi. Kami menghilangkan ancaman eksistensial tersebut. Jika kami tidak bertindak, Iran akan memiliki bom atom, dan izinkan saya mengatakan sesuatu kepada Anda, mereka akan menggunakannya."

"Itulah yang berhasil kami cegah," lanjutnya.

Netanyahu mengatakan kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel telah memberikan pukulan berat terhadap Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang menurutnya mungkin "tidak akan pulih dalam waktu yang lama".

"Ketika pukulan-pukulan seperti itu diberikan dan jurang pemisah antara rezim dan rakyat semakin dalam, Anda tidak pernah tahu kapan rezim semacam itu akan runtuh," katanya.

"Saya pikir kami telah menciptakan kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi. Itulah kemenangan yang sesungguhnya, ketika rakyat Iran mengambil kendali atas nasib mereka sendiri dan menggulingkan rezim brutal yang meneror mereka serta meneror dunia."

Netanyahu juga menyatakan bahwa militer Israel terus menargetkan "teroris Hizbullah" di Lebanon, sembari berupaya meminimalkan korban sipil.

"Dalam setiap perang seperti ini, dalam setiap peperangan di wilayah perkotaan, selalu ada korban sipil," ujarnya.

"Namun saya meminta tim kami, unit riset di Kementerian Pertahanan, untuk melihat bagaimana perbandingannya di Lebanon."

"Dan mereka mengatakan kepada saya bahwa rasionya lima banding satu. Bukan lima warga sipil tewas untuk setiap teroris. Sebaliknya, lima teroris tewas untuk setiap satu warga sipil yang terdampak dalam proses tersebut. Lima banding satu. Belum pernah terjadi sebelumnya. Benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Netanyahu.

Ia kembali menegaskan bahwa Israel sedang berperang melawan Hizbullah, bukan melawan Lebanon.

"Ketika proksi Iran itu tidak lagi menjadi ancaman, ketika organisasi itu dibongkar dan dilucuti senjatanya, maka ya, kita akan memiliki perdamaian dengan Lebanon, dan saya menantikan untuk menandatangani perjanjian tersebut."

Apa kata Iran sekutu Hizbullah?

Komandan pasukan elite Al Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Esmail Qaani, memperingatkan Israel agar segera menarik pasukannya dari Lebanon selatan atau menghadapi nasib serupa dengan penarikan tanpa syarat yang dilakukan Israel pada tahun 2000.

Dalam unggahan di media sosial, Qaani mengatakan bahwa jika Israel terus melanjutkan "agresi dan pendudukannya", maka negara itu akan dipaksa keluar dari Lebanon dalam keadaan "terhina dan kalah", sebagaimana dikutip media pemerintah Iran, Press TV.

"Jika kalian tidak meninggalkan Lebanon selatan dengan kaki kalian sendiri, maka epos tahun 2000 akan terulang kembali. Tahun ketika kalian melarikan diri dari tanah ini dengan penuh kehinaan," kata Qaani seperti dilansir Al Jazeera.

"Pilihan ada di tangan kalian," lanjutnya.

Di Lebanon, setiap 25 Mei diperingati sebagai Hari Pembebasan (Liberation Day) untuk menandai penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan negara tersebut pada 2000, setelah 22 tahun pendudukan.

Penarikan itu dipandang oleh banyak pihak di Lebanon sebagai kemenangan perlawanan terhadap kehadiran militer Israel di wilayah tersebut dan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah konflik antara Israel dan Lebanon.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]