Sudah 4 Tahun Perang, Kenapa Rusia Belum Bisa Menaklukkan Ukraina?

VoxPop
Senin, 29 Jun 2026 13:50 WIB
Invasi Rusia di Ukraina pada Februari 2022 silam, ternyata tidak membuat Ukraina tunduk.
Invasi Rusia di Ukraina pada Februari 2022 silam, ternyata tidak membuat Ukraina tunduk. (REUTERS/Gleb Garanich)
Jakarta, VoxPop --

Invasi Rusia di Ukraina pada Februari 2022 silam, ternyata tidak membuat Ukraina tunduk.

Sebaliknya, negara di bawah Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy itu terus melakukan perlawanan.

Sampai Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui negaranya saat ini mengalami "kekurangan" bahan bakar, setelah serangan berulang Ukraina dalam empat tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ukraina menyebut serangan itu sebagai "pembalasan yang adil" atas serangan Rusia yang setiap hari menargetkan warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina sejak Februari 2022, artinya sudah empat tahun perang berjalan.

"Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas ini menimbulkan masalah, itu jelas," kata Putin dalam sebuah wawancara.

"Saat ini kami mengamati kekurangan tertentu, namun tidak kritis," imbuhnya, dikutip AFP.

Dalam wawancara itu, Putin juga mengaku berharap tim negosiator Amerika Serikat datang ke Moskow untuk membahas akhir perang dengan Ukraina, setelah AS tidak lagi terlalu sibuk dengan Iran dan konflik Timur Tengah.

Mengapa Ukraina tak mudah ditundukkan?

Ukraina adalah bekas negara Soviet yang bersekutu dengan Rusia, ketika memperoleh kemerdekaan. Setelah itu, Ukraina mulai bersekutu dengan negara-negara Barat dan berupaya masuk ke NATO.

Pada tahun 2014, para demonstran Ukraina menggulingkan presiden pro-Rusia mereka, Viktor Yanukovych, setelah ia menolak mengizinkan negara itu bergabung dengan Uni Eropa (UE).

Setelah ia digulingkan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim pasukan militer ke Ukraina untuk mencaplok Krimea, wilayah Ukraina yang strategis dan penting tempat Armada Laut Hitam Rusia berada. Pada pertengahan tahun 2020-an, Krimea tetap menjadi republik Rusia.

Kondisi ini menggambarkan bagaimana hubungan antara Rusia dan Ukraina yang tidak akur dan lebih condong ke barat dan NATO. Inilah yang membuat Ukraina juga mendapat banyak dukungan selama perang, termasuk bantuan militer.

Selama empat tahun berikutnya, pertempuran antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut. Pada tahun 2023 dan 2024, Rusia membuat kemajuan penting di beberapa front, termasuk serangan signifikan terhadap fasilitas energi Ukraina dan perebutan hampir dua ratus permukiman di seluruh Ukraina.

Terlepas dari upaya-upaya ini, Ukraina terus membuat kemajuan di timur dan selatan, menghancurkan pasukan Rusia di beberapa daerah penting, khususnya di wilayah Kursk di Rusia selatan, di mana militer Rusia menghadapi banyak korban.

Tentara Ukraina juga menerima peningkatan dukungan dari NATO, termasuk persenjataan canggih, serta dari AS dan sekutunya seperti ditulis laman ebsco.com.

Menurut Francois Heisbourg, Penasihat Senior Eropa untu International Institute for Strategic Studies, Rusia gagal mencapai tujuan yang dinyatakannya, yaitu mengambil kendali politik atas Ukraina. Kudeta kilat empat hari telah berubah menjadi perang besar yang berkepanjangan.

Pasukan Moskow telah menderita penghinaan akibat salah satu kampanye paling tidak kompeten dalam sejarah militer modern, yang mengingatkan pada serangan dahsyat Benito Mussolini terhadap Yunani pada tahun 1940.

Sementara pilihan yang dimiliki Ukraina lebih terbatas. Sejak hari pertama, selain langsung menyerah kepada para penakluk, satu-satunya jalan strategis yang layak adalah perang untuk kelangsungan hidup nasional, sebagai negara berdaulat, entitas politik yang berbeda, dan bangsa yang merdeka.

"Hal ini terus berlanjut hingga saat ini. Tujuan perang yang dinyatakan Ukraina konsisten dengan perang pembebasan dan pertahanan nasional: integritas teritorial, kedaulatan politik, dan jaminan pertahanan. Selain itu, Ukraina menambahkan tujuan pasca-perang yang mencakup penghukuman kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta ganti rugi untuk pembangunan kembali negara," kata Heisbourg.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]