Iran Bacakan Ayat Khusus Buat Delegasi Asing di Pemakaman Khamenei

VoxPop
Senin, 06 Jul 2026 09:30 WIB
The coffins of Iran's late Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei and his family members in the colours of Iranian flags on the stage, as people gather for a public farewell ceremony to pay their respects to late Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei,
(Foto: REUTERS/Murad Sezer)

Lebanon

Ketika delegasi Lebanon memberikan penghormatan terakhir, panitia membacakan An Nisa ayat 66.

"Sekiranya Kami perintahkan mereka untuk mengorbankan diri atau meninggalkan rumah mereka, niscaya tidak akan ada seorang pun yang taat kecuali sedikit. Sekiranya mereka melakukan apa yang Kami anjurkan, niscaya itu akan jauh lebih baik dan lebih menenangkan bagi mereka," demikian arti ayat itu dalam bahasa Indonesia.

Jika ditarik lebih luas, ayat itu berisi teguran terhadap pemerintah Lebanon yang gagal melawan Israel dan melindungi penduduknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arab Saudi

Ketika delegasi Arab Saudi maju untuk memberikan penghormatan di hadapan peti jenazah Khamenei di Grand Mosalla, Teheran, lantunan ayat Al Quran yang mengiringinya langsung menarik perhatian.

Ayat yang dibacakan adalah Surah Ali Imran ayat 13, yang mengisahkan Perang Badar, ketika pasukan Muslim yang jauh lebih sedikit jumlahnya dan minim perlengkapan berhasil mengalahkan pasukan yang jauh lebih besar "atas kehendak Allah".

Ayat tersebut dipandang sebagai rujukan yang jelas terhadap apa yang kini semakin banyak disebut sebagai kemenangan Iran atas Amerika Serikat dan Israel dalam perang melawan negara itu.

Perang Badar sendiri terjadi pada 624 M di wilayah yang kini menjadi bagian dari Arab Saudi. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah pembacaan ayat tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan, sindiran, atau bahkan keduanya. Namun, kecil kemungkinan ayat itu dipilih secara kebetulan.

Jika dimaknai secara positif, ayat tersebut merujuk pada salah satu kemenangan pertama dalam sejarah Islam sekaligus menjadi pengingat akan memori peradaban yang sama-sama dimiliki Teheran dan Riyadh.

Mitra regional

Saat delegasi Qatar, Turki, Pakistan, dan Mesir memberi penghormatan terakhir, mereka disambut dengan ayat-ayat yang menggambarkan pujian.

Panitia melantunkan QS Al Fath ayat 1 saat delegasi ketiga negara itu mendekati peti jenazah Khamenei. Teheran seperti ingin memuji peran mereka sebagai mediator dan kawan.

Ayat itu berisi maklumat dari Tuhan soal kemenangan nyata bagi pengikut Nabi Muhammad.

"Sesungguhnya kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata," demikian bunyi surat itu dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Iran bahkan memberi doa khusus untuk Pakistan, "Berikanlah aku jalan masuk yang terhormat dan jalan keluar yang terhormat."

Sejak memimpin jalur diplomatik, Qatar dan Pakistan menggunakan hubungan pribadinya dengan Presiden AS Donald Trump guna menjembatani jurang pemisah Iran dan AS.

Sementara Mesir dibacakan ayat yang menjanjikan "Taman Keabadian" kepada orang-orang saleh, sebuah bagian yang fokus ke imbalan tanpa gambaran medan perang sama sekali.

Inilah pemerintahan-pemerintahan yang berada di antara dua dunia: terikat dengan Iran melalui perdagangan, mediasi, atau politik regional, tetapi tidak bersedia dianggap sebagai mitra ideologis dalam gerakan perlawanan bersenjata.

Sekutu Iran

Saat delegasi Rusia, China, dan India memberi penghormatan, ayat yang terdengar jauh lebih tenang.

Ayat-ayat ini berbicara tentang kebenaran, ketenangan, dan pahala, bukan soal peperangan.

Otoritas Iran membacakan QS Al Qashas ayat 83 ke delegasi Rusia. Ayat tersebut berbicara soal "Rumah Abadi di Akhirat," yang diperuntukkan bagi "mereka yang tidak mencari tirani maupun kerusakan di bumi."

Iran lalu melantunkan QS Ali Imran ayat 126 untuk delegasi China.

"Allah menetapkan ini hanya sebagai kabar baik bagi kalian dan penegasan bagi hati kalian. Dan kemenangan hanya datang dari Allah," demikian ayat tersebut.

Sementara itu, India menerima ayat Ali Imran ayat 139 yang berisi seruan agar "jangan goyah atau berduka."

Inilah negara-negara yang muncul, memberikan legitimasi kepada Iran, tetapi tidak dilibatkan dalam kisah perlawanan.

Proksi Iran

Panitia juga melantunkan ayat khusus saat delegasi Hamas, Hizbullah, Jihad Islam, Houthi, Hashd Al Shaabi, dan Afghanistan.

Milisi-milisi itu punya relasi yang baik dengan Iran dan kerap disebut proksi negara tersebut.

Ayat-ayat yang dipilih memiliki tema yang sama: mati syahid, janji yang tak pernah putus kepada Tuhan, dan kemenangan.

Hamas disambut dengan QS Al Imran ayat 139, menggambarkan suatu kaum "yang sudah membuktikan kesetiaan mereka pada apa yang telah mereka janjikan kepada Tuhan."

Sementara itu, Houthi dibacakan QS Al Fath ayat 29 yang berisi keras terhadap musuh dan lunak terhadap kawan atau sesama.

Taliban dan Jihad Islam disambut dengan ayat pembuka Al Fath yang berisi "kemenangan yang nyata."

Fakta bahwa bagian yang sama digunakan untuk dua gerakan yang sangat berbeda menunjukkan ada pesan bahwa kemenangan Taliban, dan sekarang Iran, atas AS bisa ditiru oleh Palestina melawan pendudukan Israel.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2