Unsrat Tunggu Investigasi Kematian Dokter PPDS Diduga Korban Bully
Pihak Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, Sulawesi Utara (Sulut) tengah melakukan proses investigasi penyebab kematian dokter Program Pendidikan Kedokteran Spesialis (PPDS) Anestesiologi Fakultas Kedokteran, Adrian Rantung di RSUP Prof. Kandou yang diduga mengalami perundungan atau bully.
"Ini sementara diinvestigasi," kata Kepala Humas Unsrat, Max Rembang kepada VoxPop.com, Selasa (7/7).
Sementara ini, kata Max pihak Unsrat tengah melakukan pertemuan dengan pihak RS Kandou untuk mengetahui pasti penyebab kematian korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini, kata Max, Unsrat belum menerima informasi yang akurat mengenai kronologi maupun penyebab kematian dokter peserta PPS tersebut.
"Jadi, belum ada informasi secara akurat tentang kasus itu. Karena, rektor dengan pihak pimpinan rumah sakit di jam ini sementara meeting," ungkapnya.
Adrian diduga mengalami perundungan selama bertugas di RS Kandou. Korban ditemukan tak bernyawa, diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan perundungan selama PPDS.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghentikan sementara kegiatan PPDS di RS Kandou usai kasus ini.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya mengatakan penghentian sementara dilakukan agar proses investigasi dapat berjalan menyeluruh.
Keputusan penghentian sementara itu tertuang dalam Keputusan Direktur Utama RS RD Kandou Manado tentang Penghentian Sementara Kegiatan Pembelajaran Program Studi Anestesiologi.
"Bahwa dengan adanya dugaan terjadinya perundungan terhadap salah satu peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi," demikian bunyi pertimbangan dalam keputusan tersebut.
![]() |
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
