ANALISIS

Merapal Ulang Mantra Usang, 'Balas di Piala AFF Dua Tahun Lagi'

Nova Arifianto | VoxPop
Minggu, 09 Agu 2026 09:00 WIB
Sejumlah pesepak bola Timnas Indonesia lesu usai dikalahkan Timnas Vietnam pada pertandingan Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8/2026). Timnas Indonesia dikalahkan Vietnam dengan skor akhir 0-3.
Timnas Indonesia harus kembali gigit jari di Piala AFF 2026. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Jakarta, VoxPop --

Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi. Gagal terus, coba terus. Sebuah semangat luar biasa dari Timnas Indonesia yang tak pernah padam dalam kurun 30 tahun.

Kegagalan mungkin bisa dibilang teman sejati Timnas Indonesia. Oke ada keberhasilan kenaikan peringkat dalam ranking FIFA. Prestasi yang harus diakui, tetapi ada juga kegagalan yang jadi fakta.

Berhasil menembus fase kedua, ketiga, keempat kualifikasi Piala Dunia, tapi berujung gagal tampil di putaran final Piala Dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berhasil menang atas Kamboja dan Timor Leste, namun kemudian dijungkalkan Vietnam dan disetop Singapura. Ini kiprah terakhir Timnas Indonesia dalam sebuah ajang, tepatnya di Piala AFF.

Agenda dua tahunan di regional Asia Tenggara yang sudah berjalan sejak 1996. Sampai 30 tahun berselang belum sekali pun Timnas Indonesia jadi kampiun di ajang ini.

Target juara yang diusung pada Piala AFF 2026, gagal tercapai (lagi). Cerita lama berulang kembali. Dari zaman Robby Darwis sampai Robi Darwis, sejak disponsori perusahaan bir sampai disokong pabrik otomotif, mulai masa pemerintahan Soeharto sampai kini Prabowo Subianto jadi presiden, Piala AFF cuma incaran yang tak kunjung jadi kenyataan.

Ada kalanya jarak ke podium sudah cukup dekat, hanya hitungan 90 menit, tetapi langkah kaki para pemain tak jadi naik podium seperti pada 2000 dan 2002 saat laga final hanya berlangsung dalam satu leg.

Ketika final Piala AFF dimainkan dalam dua leg, Indonesia bisa empat kali tembus ke partai perebutan gelar. Hasilnya nihil.

Impian jadi raja Asia Tenggara tak kunjung nyata. Sematan 'King Indo' tak ubahnya harapan yang kemudian jadi halusinasi dan bahan guyon belaka.

Segala macam cara sudah digunakan, mendatangkan pelatih asing hingga menggaet pemain naturalisasi dari Eropa dan menjaring mereka pulang. Cerita pahit lagi yang didapat.

Indonesia berusaha membentuk tim nasional yang terbaik, negara lain juga berupaya menjadikan wakilnya di lapangan hijau sebagai kesebelasan tanpa kalah. Skor akhir pertandingan jadi penentu siapa yang lebih unggul.

Formula naturalisasi gagal di Indonesia. Padahal dengan cara yang sama, Singapura dan Vietnam bisa mendatangkan gelar. Memang tak semua pola sama punya hasil berbeda. Mungkin naturalisasi bukan cara yang terbaik buat Indonesia, bisa jadi naturalisasi harus didukung talenta-talenta dari kompetisi sepak bola yang baik di dalam negeri.

Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>

Piala AFF Enggak Penting, tapi Tetap Dipandang BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2