Merapal Ulang Mantra Usang, 'Balas di Piala AFF Dua Tahun Lagi'
Kalau sekadar mau angkat piala coba bikin kejuaraan dengan mengundang negara-negara peringkat bawah di ranking FIFA, namun bukan seperti itu cara menjadi juara sesungguhnya.
Spanyol meraih titel juara dunia dengan mengalahkan Argentina, bukan San Marino yang ada di posisi buncit atau ke-211 dalam daftar rangking FIFA.
Lantaran peringkat para peserta yang kurang mengkilap dibanding ajang-ajang lain, seperti Piala Asia atau Piala Dunia, posisi Piala AFF jelas jauh levelnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari kontestan kelas medioker, tetap saja Piala AFF jadi barometer sepak bola Asia Tenggara. Indonesia juga bukan atau belum jadi kontestan reguler Piala Asia. Sementara impian Piala Dunia juga belum kunjung kesampaian.
John Herdman tidak mengesampingkan Piala AFF. Pelatih kedua yang dikontrak PSSI era Erick Thohir di Timnas Indonesia itu menjadikan ajang dua tahunan tingkat regional sebagai dasar piramida sebelum menuju target di pucuk piramida, yakni lolos Piala Dunia 2030.
Setelah Piala AFF 2026 ada FIFA ASEAN, Piala Asia, dan kualifikasi Piala Dunia 2030.
John Herdman harus belajar banyak dari kegagalan ini. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S) |
Masalah muncul ketika tim Garuda menggelepar-gelepar di Piala AFF 2026. Pertanyaan pun menyusul hadir. Apakah Indonesia sanggup berbicara di pentas yang lebih tinggi, melawan negara dengan level yang lebih baik?
Oke mungkin ada jawaban soal bakal ada pemain-pemain lain yang akan hadir, Calvin Verdonk, Joey Pelupessy, Kevin Diks, Ole Romeny, dan Jay Idzes.
Apa itu jawaban sebenarnya dari masalah buruknya penampilan Timnas Indonesia di Pakansari dan di Singapura?
Boleh jadi iya, tapi semua adalah jawaban instan yang mengubur sederet persoalan pelik di balik sepak bola Indonesia yang tak kunjung keruan dari tahun ke tahun.
Lantaran Piala AFF hanya berlangsung dua tahunan, ya kegagalan hari ini sudah sewajarnya disikapi dengan suara lantang, 'Balas di Piala AFF dua tahun lagi'.
Tak terasa 30 tahun sudah berlalu dari kegagalan pertama di Piala AFF. Di mana level Indonesia saat ini dibanding tiga dekade lalu? Masih ada di level yang sama, atau membaik, atau memburuk? Kita semua punya jawaban masing-masing.
(ptr)
