HARI ANTINARKOTIKA DUNIA

Sisi Gelap Kripto, Jadi Alat Transaksi Bandar Narkoba Dunia

VoxPop
Jumat, 26 Jun 2026 09:59 WIB
Transparansi blockchain bisa jadi kelemahan bagi pengedar narkoba
Ilustrasi. Transparansi blockchain bisa jadi kelemahan bagi pengedar narkoba.(Foto: iStockphoto/Natalia Shabasheva)

Meski tampak menguntungkan, kripto ternyata bisa berbalik menjadi kelemahan fatal bagi para pengedar narkoba. Elliptic, firma analitik blockchain, menyarankan para penegak hukum untuk mengikuti uangnya, bukan narkobanya.

Para penyelidik yang ingin menghancurkan jaringan pengedaran narkoba tahu bahwa petinggi kartel jarang menyentuh narkoba secara langsung, sehingga mereka mengisolasi diri dari produk fisik. Mereka kendalikan adalah infrastruktur finansial yang menopang seluruh operasi.

Berbeda dari investigasi finansial konvensional yang mensyaratkan rekaman dari banyak institusi di berbagai yurisdiksi, Elliptic menilai transparansi bawaan blockchain memungkinkan penyidik mengakses riwayat transaksi lengkap secara mandiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap transaksi tercatat permanen, bertanda waktu presisi, dan terbuka untuk ditelusuri.

"Kemampuan melacak kripto sangat esensial dalam hampir setiap penyelidikan, terlebih dalam kasus perdagangan narkoba. Ketika kami mengambil uang seorang kriminal, itulah saat kami benar-benar memberikan pukulan telak kepada mereka," ujar Mike Prado, Wakil Asisten Direktur Homeland Security Investigations (HSI), AS, dikutip dari laman TRM.

Kasus Banmeet Singh menjadi bukti paling gamblang bagaimana transparansi blockchain itu bekerja. Pada Januari 2024, Singh mengaku bersalah menjalankan konspirasi narkoba di dark web yang menghasilkan apa yang disebut DEA sebagai "penyitaan kripto dan tunai terbesar dalam sejarah DEA" senilai sekitar US$150 juta dalam aset digital.

Singh membuat situs marketing vendor di berbagai pasar darknet untuk menjual fentanil, LSD, ekstasi, Xanax, ketamin, dan tramadol, dengan pembayaran menggunakan kripto.

Uang itu kemudian digunakan untuk memindahkan ratusan kilogram dan puluhan ribu pil zat terlarang ke dan melalui Amerika Serikat.

Transaksi kripto memberikan catatan transparan atas seluruh operasi finansial Singh. Penyelidikan itu melibatkan agen DEA, IRS Criminal Investigation, dan Homeland Security Investigations yang bisa menelusuri riwayat transaksi lengkap lewat analisis blockchain dan akhirnya menghukum Singh bersama tujuh terdakwa lain dari jaringan yang sama.

Meski demikian, para penjahat terus berinovasi mencari jalan baru yang aman seperti beralih ke koin privasi seperti Monero, memanfaatkan layanan mixing untuk mengaburkan asal-usul dana, atau berpindah ke platform terdesentralisasi yang lebih sulit dikendalikan.

Chainalysis memperingatkan bahwa disrupsi rantai pasok seperti yang terjadi pada fentanil hanya bersifat sementara. Selama permintaan masih ada dan produksi narkoba sintetis tetap menguntungkan, jaringan kriminal akan beradaptasi dan mencari jalur baru.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2