Iran Ngotot Tak Bakal Buka Selat Hormuz Sampai AS Penuhi Tuntutan

VoxPop
Minggu, 09 Agu 2026 19:30 WIB
Vessels are anchored in the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, June 11, 2026. REUTERS/Stringer
Iran menegaskan tak akan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi syarat yang diajukan Teheran, termasuk pemberian kompensasi atas kerusakan akibat perang. (Foto: REUTERS/Stringer)
Jakarta, VoxPop --

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan Teheran sehari sebelumnya.

Salah satu syarat yang diajukan Iran adalah AS memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Iran juga ingin mengenakan biaya bagi kapal yang melintas Selat Hormuz, serta menyerang kapal yang dituduh berusaha menghindari jalur yang ditetapkan Teheran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami mempertahankan penutupan Selat Hormuz sampai musuh menerima semua persyaratan kami... Selat tersebut kini pada dasarnya merupakan medan perang bagi kami dan bukan sekadar jalur perairan," kata pernyataan IRGC, dikutip AFP, Minggu (9/8).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai lalu lintas dan pengelolaan Selat Hormuz mendekati tahap akhir.

Namun, ia menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada persyaratan lain dan kompensasi atas pelanggaran terhadap kesepakatan Juni.

Araghchi juga membantah Iran sedang melakukan negosiasi dengan AS. Ia mengatakan kedua negara hanya 'saling bertukar pesan' melalui perantara.

Kemarin (8/8), Kepala Keamanan Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyampaikan sejumlah tuntutan agar Selat Hormuz dibuka kembali. Salah satunya adalah diakhirinya perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.

Ia juga menuntut AS menghentikan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mengakhiri sanksi, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang, menurut pernyataan yang dikutip kantor berita Tasnim.

Sementara, Oman pada Sabtu kemarin mengecam adanya serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, tanpa menyebut Iran secara langsung.

Kementerian Luar Negeri Oman juga mengatakan negosiasi yang sedang berlangsung mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz berjalan dalam suasana yang positif dan konstruktif. Pihak Oman mendesak semua pihak menghindari tindakan yang dapat membahayakan kemajuan pembicaraan.

Kesepakatan Iran-AS sebelumnya menyebutkan Teheran dan Muscat akan membahas pengaturan masa depan Selat Hormuz bersama negara-negara Teluk lainnya dan sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

Iran telah memberlakukan blokade efektif di Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan provokasi pada 28 Februari lalu.

Serangkaian serangan yang terus terjadi di jalur laut tersebut menyebabkan gencatan senjata AS-Iran pada April lalu runtuh.

Para mediator kemudian mendesak AS dan Iran untuk kembali pada ketentuan dalam nota kesepahaman yang dicapai pada Juni, yang menjadi landasan bagi pembicaraan perdamaian.

(pta)