Antitesis Jerman dan Pola Berulang dalam Kegagalan
Timnas Jerman tersingkir lagi dari Piala Dunia 2026. Kegagalan seakan jadi pola berulang untuk disaksikan sekaligus jadi antitesis dengan status tim unggulan.
Die Mannschaft, julukan timnas Jerman, harus angkat koper usai tumbang di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Kekalahan lawan Paraguay begitu menyedihkan, tumbang di babak penalti usai tiga algojo loyo dalam menunaikan pekerjaan.
Akibatnya, tim lawan dengan jumlah eksekusi sukses lebih banyak keluar sebagai pemenang. Paraguay kembali ke fase knockout Piala Dunia usai absen dalam tiga edisi terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, keliru jika memandang Paraguay sekadar beruntung bisa menumbangkan Jerman. Benar bahwa tim asuhan Gustavo Alfaro itu kalah dominan jika melihat penguasaan bola, jumlah sepakan, dan shots on target dari lawan. Akan tetapi, Orlando Gill dan kawan-kawan solid dalam menyusun benteng pertahanan.
Berdiri di bawah mistar gawang, Orlando Gill mencatat lima kali penyelamatan penting dalam laga. Itu belum termasuk dua tepisan dalam adu tos-tosan. Pantas jika kiper 26 tahun itu diberi predikat pemain terbaik dalam pertandingan.
Sebaliknya Jerman, ada kontradiksi dalam catatan pertandingan. Dari total 21 kali tendangan hanya tujuh atau 30 persen mengarah ke gawang. Ini layak dipertanyakan lantaran lini depan mereka diisi nama-nama seperti Leroy Sane, Deniz Undav, Florian Wirtz, dan Kai Havertz dalam jajaran.
Namun justru Jerman kebobolan lebih dulu. Dari permainan terbuka pula. Ini jadi tanda Jerman punya pekerjaan besar dalam pertahanan.
Sebab jika melihat keseluruhan, Jerman selalu kebobolan di Piala Dunia 2026. Lawan tim debutan seperti Curacao pun kemasukan. Begitu pun saat menghadapi Pantai Gading. Joshua Kimmich dan kawan-kawan juga sempat kalah lawan Ekuador di babak penyisihan.
Kenyataan Jerman selalu kebobolan dalam tiga pertandingan beruntun mempertegas hipotesis ini. Padahal delapan pemain bertahan dalam komposisi skuad seluruhnya nama berpengalaman.
Pelatih timnas Jerman, Julian Nagelsmann juga jarang mengubah kerangka formasi 4-2-3-1. Namun saat juru taktik 38 tahun itu berkreasi, justru hal itu membuat mereka kesulitan sendiri.
Selain pergantian reguler di pos bek kiri antara Nathaniel Brown dan David Raum, Nagelsmann sempat memasang Deniz Undav sebagai gelandang serang alih-alih Jamal Musiala saat melawan Paraguay.
Titik tempat Undav berdiri memungkinkan dirinya merangsek lebih dalam ketika Kai Havertz berperan sebagai pemancing lawan. Sayangnya siasat ini tak berbuah angka.
Lawan justru mampu membaca gelagat ini dengan membuat pertahanan lebih rapat. Jerman dengan segala inovasi taktis, kelimpungan dengan tim-tim dengan napas pragmatis.
as a preferred source on Google




