ANALISIS

Antitesis Jerman dan Pola Berulang dalam Kegagalan

Muhammad Ikhwanuddin | VoxPop
Selasa, 30 Jun 2026 17:10 WIB
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Round of 32 - Germany v Paraguay - Boston Stadium, Foxborough, Massachusetts, U.S. - June 29, 2026
Germany's Jonathan Tah scores their second goal past Paraguay's Orlando Gill before it is disallowed after a V
Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2026. (REUTERS/Pilar Olivares)

Sejatinya Jerman bukan hanya tim dengan gelimang prestasi terbanyak kedua bersama Italia di Piala Dunia. Negara Eropa barat itu juga jelmaan laboratorium otak sepak bola.

Namun lagi-lagi Jerman gagal di Piala Dunia. Sejak jadi juara pada edisi 2014, pentas global seakan tak berpihak pada mereka. Dua kali tumbang di babak penyisihan dan terakhir menyerah di awal fase gugur jadi cerminan.

Jerman adalah negara penyumbang pelatih terbanyak keempat di Piala Dunia 2026. Selain Julian Nagelsmann, ada Thomas Tuchel dan Ralf Rangnick masuk dalam barisan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Infografis Satu Darah Beda Negara

Ketiga sosok itu sekaligus membawa masing-masing tim ke fase knockout Piala Dunia 2026. Baru timnas Jerman memastikan nasib. Sedangkan Tuchel bersama Inggris dan Rangnick di Austria belum berlaga timnya.

Masing-masing juru taktik asal Jerman punya karakter unik dalam gaya kepelatihannya. Nagelsmann dengan pendekatan asimetris saat memasang pemain tidak pada habitatnya, Rangnick dengan serangan balik agresif dari pola 4-2-2-2, dan Tuchel dari fleksibilitas menyusun formasi sesuai dengan lawannya.

Ini belum bicara pelatih-pelatih Jerman di level klub. Nama-nama seperti Hansi Flick dan Jurgen Klopp juga punya ide segar di belantika sepak bola. Singkatnya, Jerman punya sumber daya unggulan ketika menyoal nakhoda.

Sebab saat bicara tim nasional seakan berbeda cerita. Jerman masih kesulitan menapak podium tertinggi setelah Joachim Low pergi. Sudah tiga nama silih berganti (Hansi Flick, Rudi Voller, dan Julian Nagelsmann) tapi belum juga ada juga tambahan trofi.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda Jerman bakal mengganti susunan pelatih. Nagelsmann masih terikat kontrak hingga dua tahun mendatang atau Euro 2028.

Artinya masih ada rentang dua tahun untuk melakukan perbaikan jika masih percaya pada sosok Nagelsmann. Dalam dua kali revolusi bumi terhadap matahari itu, ada UEFA Nations League untuk jadi ukuran.

Susunan kepelatihan Jerman jelas butuh evaluasi. Sekadar finis di perempat final Euro 2024 dan babak 32 besar Piala Dunia belum cukup sebagai titian menuju perbaikan.

Namun, Jerman perlu mengulang dari awal jika pada akhirnya mengganti Nagelsmann. Tapi apabila masih menaruh kepercayaan pada wajah sama, agaknya Die Mannschaft perlu waktu lebih lama untuk perbaikan.

(dal) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2