HARI ANTINARKOTIKA DUNIA

Candu yang Mengikat, Apa yang Terjadi pada Otak saat Pakai Narkoba?

rti | VoxPop
Jumat, 26 Jun 2026 14:15 WIB
Penggunaan narkoba dapat menimbulkan kecanduan dan semua proses ini terjadi di otak. Ketahui bagaimana cara narkoba bisa memengaruhi otak.
Ilustrasi. Penggunaan narkoba dapat menimbulkan kecanduan dan semua proses ini terjadi di otak. Ketahui bagaimana cara narkoba bisa memengaruhi otak. (Pixabay)
Jakarta, VoxPop --

Orang yang memiliki masalah kecanduan narkoba sering dianggap sebagai sosok yang memiliki moral lemah. Ia dihakimi sebagai orang yang tak punya kemauan untuk berhenti.

Namun dari perspektif medis, kecanduan dilihat sebagai penyakit kronis yang mengubah struktur dan fungsi otak. Kecanduan obat-obatan terlarang bisa 'membajak' otak dan mengubah cara kerjanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zat adiktif pada narkoba mengacaukan sistem komunikasi alami di dalam otak. Akibatnya, cara seseorang merasakan kesenangan, mengambil keputusan, hingga mengendalikan diri bisa berubah.

Penting untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan pengaruh narkoba terhadap otak, hingga faktor risikonya agar kita bisa menyadari betapa berbahayanya zat adiktif ini.

Cara narkoba membajak otak dan neurotransmitter

Otak merupakan pusat komando aktivitas manusia, mulai dari bernapas hingga berkarya, yang bekerja melalui neuron sebagai pengirim pesan. Adapun neuron melepaskan zat kimia berupa neurotransmitter untuk diterima neuron lain.

Setelah itu, transporter membantu mendaur ulang neurotransmitter agar sinyal berhenti tepat waktu. Proses ini menjaga komunikasi otak tetap seimbang dan teratur.

Mengutip laman National Institute on Drug Abuse (NIDA) AS, beberapa narkoba seperti ganja dan heroin meniru struktur neurotransmitter alami tubuh. Oleh karena itu, zat tersebut bisa menempel pada reseptor neuron dan mengirimkan sinyal yang tidak normal.

Adapun amfetamin dan kokain dapat memicu pelepasan neurotransmitter dalam jumlah berlebihan atau menghambat proses daur ulangnya. Akibatnya, komunikasi antarneuron menjadi kacau.

Untuk memahami bagaimana cara narkoba membajak otak, berikut ini beberapa area otak yang terdampak dari penggunaannya.

1. Basal ganglia

Cannabis or marijuana leaves on a darkness backgroundIlustrasi. Penggunaan narkoba dapat menimbulkan kecanduan dan semua proses ini terjadi di otak.  (iStockphoto/waraphorn-aphai)

Bagian ini berperan penting dalam rasa senang, motivasi, dan pembentukan kebiasaan. Basal ganglia juga menjadi pusat dari sistem reward atau penghargaan di otak.

Saat narkoba digunakan, sirkuit ini menjadi terlalu aktif dan memunculkan euforia. Namun, ketika narkoba digunakan berulang kali, otak akan beradaptasi sehingga seseorang makin sulit merasakan kesenangan dari hal normal selain narkoba.

2. Extended amygdala

Bagian ini berkaitan dengan stres, kecemasan, mudah marah, dan rasa tidak nyaman. Setelah efek narkoba hilang, area ini berperan dalam munculnya gejala withdrawal atau putus zat.

Seiring waktu, pengguna tak lagi memakai narkoba untuk merasa senang, tetapi untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut.

3. Prefrontal cortex

Prefrontal cortex berfungsi untuk berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan mengendalikan impuls. Jika area ini terganggu, seseorang akan lebih sulit menahan dorongan untuk memakai narkoba.

Bagaimana kecanduan narkoba bisa tercipta?

Pembagian berdasarkan area otak tersebut bisa menjelaskan bagaimana kecanduan narkoba bisa terjadi, setidaknya dalam tiga tahap sederhana.

Seperti digambarkan oleh Help Guide, kecanduan ditandai oleh tiga hal utama, yakni munculnya keinginan yang sangat kuat terhadap zat tertentu, hilangnya kontrol atas penggunaannya, dan terus memakai zat tersebut meskipun dampaknya sudah jelas merugikan.

Pertama, munculnya keinginan yang sangat kuat terhadap zat tertentu bisa terjadi karena adanya sistem reward dan dorongan dopamine.

Setiap kali seseorang mengalami sesuatu yang menyenangkan, otak melepaskan dopamine, yaitu neurotransmiter yang memberi sinyal bahwa pengalaman itu penting dan patut diingat. Sinyal ini membantu otak membentuk kebiasaan, sehingga manusia cenderung mengulangi aktivitas yang terasa memberi kepuasan.

Kabar buruknya, narkoba melepaskan dopamine dua hingga sepuluh kali lebih banyak ketimbang reward alami, dan otak tidak mudah bertahan menghadapi banjir sinyal tersebut.

Selain itu, dopamine juga berperan dalam mendorong otak untuk belajar dan menyimpan memori. Dopamine bekerja bersama sistem pembelajaran otak untuk mengubah pengalaman memakai narkoba menjadi sesuatu yang diingat dan ingin terus dicari.

Tahap berikutnya, yakni seseorang bisa kehilangan kontrol atas penggunaan narkoba. Hal ini terjadi ketika lonjakan dopamine terjadi berulang kali, sehingga otak mulai beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasinya, yakni mengurangi jumlah dan sensitivitas reseptor dopamine.

Dalam kondisi ini, pengguna mulai mengonsumsi lebih banyak zat bukan lagi untuk merasa 'high', melainkan untuk merasa normal.

"Meskipun seseorang mungkin mulai menggunakan suatu zat atau perilaku untuk bersenang-senang atau memecahkan masalah, otak kita beradaptasi dan kita berhenti mendapatkan efek yang sama," kata Anna Lembke, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Stanford Medicine.

Proses ini terjadi juga pada kecanduan zat alkohol maupun opioid, kelompok besar obat pereda nyeri yang sangat kuat. Otak mulai memperlakukan zat-zat tersebut sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kebutuhan dasar seperti makan.

"Sekarang mereka membutuhkan lebih banyak zat tersebut, atau bentuk yang lebih ampuh, untuk mendapatkan efek yang sama dan mencegah gejala putus zat," kata Lembke lagi.

Pada titik ini, perilaku kompulsif mulai mengambil alih. Ini menjadi tahap selanjutnya ketika seseorang memakai zat adiktif meski tahu dampaknya jelas merugikan.

Rasa nikmat dari narkoba bisa saja berkurang, tetapi ingatan tentang efeknya dan dorongan untuk mengulanginya tetap bertahan. Inilah yang akhirnya menimbulkan kecanduan.

Baca halaman selanjutnya tentang efek narkoba..

Add as a preferred
source on Google
Usia Muda Lebih Rentan Alami Kecanduan Narkoba BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2