HARI ANTINARKOTIKA DUNIA

Candu yang Mengikat, Apa yang Terjadi pada Otak saat Pakai Narkoba?

rti | VoxPop
Jumat, 26 Jun 2026 14:15 WIB
Penggunaan narkoba dapat menimbulkan kecanduan dan semua proses ini terjadi di otak. Ketahui bagaimana cara narkoba bisa memengaruhi otak.
Ilustrasi. Penggunaan narkoba dapat menimbulkan kecanduan dan semua proses ini terjadi di otak. Ketahui bagaimana cara narkoba bisa memengaruhi otak. (Pixabay)

Usia muda lebih rentan alami kecanduan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kecanduan narkoba bisa memengaruhi area prefrontal cortex. Pada remaja, area otak ini belum berkembang sempurna, sehingga mereka jadi kelompok yang lebih rentan terhadap pengaruh zat adiktif.

Hal tersebut berdasarkan sebuah studi yang dipimpin para peneliti dari NIDA, bagian dari National Institutes of Health di AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian tersebut menganalisis data survei AS periode 2015-2018 dan membandingkan risiko gangguan penggunaan zat pada remaja usia 12-17 tahun dan dewasa muda usia 18-25 tahun setelah pertama kali memakai ganja atau menyalahgunakan obat resep.

Hasilnya menunjukkan, setelah pertama kali mencoba ganja atau menyalahgunakan obat resep, proporsi yang mengalami gangguan penggunaan zat, lebih tinggi pada remaja dibanding dewasa muda.

Dalam 12 bulan setelah pertama kali menggunakan ganja, 10,7 persen remaja mengalami gangguan penggunaan ganja, sedangkan pada dewasa muda angkanya 6,4 persen.

Pola serupa juga ditemukan pada penyalahgunaan obat resep. Dalam 12 bulan pertama, 11,2 persen remaja mengalami gangguan penggunaan opioid resep dibanding 6,9 persen dewasa muda.

Temuan ini menegaskan, usia awal penggunaan narkoba merupakan faktor risiko yang sangat penting. Ketika zat adiktif masuk ke otak yang masih berkembang, dampaknya bisa lebih cepat tertanam.

Neuroplasticity: bagaimana otak bisa melepaskan kecanduan?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kecanduan timbul karena otak belajar dan menyimpan memori. Lalu bagaimana cara otak lepas dari kecanduan? Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara yang sama, yakni membuat otak mempelajari kebiasaan baru.

Inilah yang disebut dengan neuroplasticity, yaitu kapasitas untuk membentuk hubungan baru antarsel saraf, mengubah pola lama, dan menyesuaikan diri terhadap pengalaman baru. Kemampuan ini yang menjadi dasar harapan otak dapat pulih dari dampak kecanduan.

Mengutip Harvard Health Publishing, neuroplasticity menunjukkan perilaku dapat diubah melalui pembelajaran. Karena kecanduan berkaitan erat dengan kebiasaan dan pola respons yang dipelajari, pemulihan pun dapat dibantu melalui pendekatan yang berbasis pembelajaran.

Salah satu caranya, yakni melalui terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Terapi ini membantu seseorang mengenali situasi yang memicu penggunaan narkoba, menghindarinya, serta mempelajari cara baru untuk merespons stres atau dorongan memakai zat.

Selain CBT, pendekatan lain seperti contingency management juga terbukti bermanfaat. Metode ini memberi penguatan positif terhadap perilaku sehat, misalnya dengan hadiah ketika seseorang berhasil mengontrol diri tak memakai narkoba lagi.

Dalam beberapa kasus, obat-obatan tertentu juga dapat membantu mengendalikan gejala, sehingga pasien lebih mampu mengikuti konseling dan terapi perilaku. Banyak orang menjalani pemulihan dengan menggabungkan obat, terapi, dan support group.

Jadi, saat seseorang berhenti memakai zat adiktif dan mulai menjalani pola hidup yang lebih sehat, otak perlahan dapat membangun jalur-jalur baru yang mendukung perilaku positif.

Namun, proses ini tidak berlangsung dalam sekejap. Pemulihan otak membutuhkan waktu, kesabaran, komitmen, dan dalam banyak kasus, bantuan profesional.

Mengetahui betapa kuatnya intervensi narkoba terhadap cara kerja otak kita, terutama pada usia remaja dan dewasa muda, penting untuk mengajak lebih banyak orang menghindari zat berbahaya ini.

Perlu ada tindakan yang bisa 'membajak' keinginan kita untuk menggunakan narkoba, segera sebelum zat adiktif tersebut membajak otak dan menimbulkan candu berbahaya.

(rti/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2